💡 Poin Penting Pada Artikel Ini:

  • Hujan Datang Lebih Lambat: BMKG memprediksi musim hujan 2026/2027 mulai bertahap pada November 2026, dengan puncak Desember 2026 hingga Februari 2027.
  • Tiga Hama Ikut Bergerak: Laron sebagai tanda koloni rayap, tikus yang terdesak genangan, dan nyamuk Aedes aegypti yang bertelur di air bersih.
  • Siapkan Rumah dari Sekarang: Waktu terbaik mengecek rayap, menutup jalur tikus, dan membuang genangan adalah sebelum hujan deras pertama turun.

Beberapa minggu terakhir, banyak daerah masih terasa panas dan kering, padahal biasanya Oktober sudah mulai sering hujan. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini memang sesuai prediksi tahun ini: musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat dari biasanya.


Bagi pemilik rumah, kabar ini punya sisi lain. Begitu hujan pertama turun, beberapa hama biasanya muncul dalam waktu berdekatan. Laron mengerubungi lampu, tikus naik dari saluran air, dan nyamuk mulai bertelur di genangan. Jeda sebelum hujan datang ini adalah waktu yang pas untuk bersiap.

Kenapa Musim Hujan Tahun Ini Datang Lebih Lambat?

BMKG mencatat dua fenomena iklim terjadi bersamaan: El Niño di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. Kombinasi keduanya memperpanjang kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga hujan datang terlambat dan musimnya lebih singkat.


Berdasarkan prediksi yang disampaikan BMKG pada 22 September 2026:

  • Awal musim hujan bertahap. Sekitar 24,66% wilayah Indonesia mulai masuk musim hujan pada November 2026, dan 17,31% lainnya pada Desember 2026.
  • Mundur dari biasanya. Awal musim hujan datang lebih lambat dibandingkan rata-rata 1991–2020 di 61,08% wilayah daratan Indonesia.
  • Puncaknya terbagi. Desember 2026 di 36,94% wilayah, Januari 2027 di 25,68%, dan Februari 2027 di 16,79%.
  • Lebih singkat. Musim hujan diprediksi lebih pendek dari normal di 51,90% wilayah.

Hujan tidak hilang, hanya bergeser. Saat akhirnya datang, jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah diprediksi tetap normal, dan BMKG mengingatkan risiko bencana seperti banjir ikut meningkat.


3 Hama yang Biasanya Ikut Datang Setelah Hujan Pertama

Perubahan kelembapan dan munculnya genangan setelah kemarau panjang memicu pergerakan hama di sekitar rumah. Tiga hama ini yang paling sering dikeluhkan pemilik rumah di awal musim hujan.

1. Laron: Tanda Ada Koloni Rayap di Dekat Rumah

Laron yang beterbangan di lampu teras setelah hujan adalah rayap bersayap, calon raja dan ratu yang keluar dari koloni untuk kawin dan membangun sarang baru. Koloni rayap biasanya melepas laron saat udara lembap setelah hujan, terutama sore hingga malam hari.


Laron sendiri tidak merusak kayu. Namun kemunculannya dalam jumlah banyak menandakan ada koloni rayap yang sudah matang di sekitar rumah, entah di tanah halaman, di bawah lantai, atau di dalam kayu. Penjelasan lengkapnya ada di artikel apakah laron itu rayap.


Tanah yang makin lembap juga membuat rayap tanah lebih aktif mencari kayu di dalam bangunan, seperti dibahas dalam artikel mengapa serangan rayap meningkat saat musim hujan.

2. Tikus: Terdesak dari Saluran Air ke Dalam Rumah

Saat hujan deras, got dan saluran air yang biasa menjadi jalur hidup tikus mulai tergenang. Tikus lalu mencari tempat yang lebih kering dan dekat sumber makanan, seperti dapur, gudang, dan plafon. Suara berisik di atap yang tiba-tiba muncul di awal musim hujan sering berasal dari tikus yang pindah tempat tinggal. Baca juga bahaya tersembunyi di balik suara tikus di atap rumah.


Masalahnya tidak berhenti di kerusakan barang. Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa leptospirosis, penyakit yang ditularkan lewat urin hewan terinfeksi terutama tikus, kerap muncul setelah banjir. Penularannya bisa melalui air, lumpur, tanah, atau makanan yang tercemar.


Kemenkes menyarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, atau mata merah setelah terkena air banjir atau lumpur.

3. Nyamuk Aedes aegypti: Bertelur di Genangan Air Bersih

Hujan pertama meninggalkan banyak genangan kecil, mulai dari talang, pot, ban bekas, sampai tutup botol di halaman. Nyamuk Aedes aegypti, penular demam berdarah dengue (DBD), lebih suka bertelur di air jernih yang tenang seperti ini.


Kasus DBD di Indonesia masih tinggi. Kementerian Kesehatan mencatat 39.672 kasus DBD hingga Mei 2026, dan Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus terbanyak, lebih dari 9.000 kasus.


Selain genangan di luar, cek juga titik di dalam rumah yang sering terlewat, seperti nampan dispenser dan tatakan kulkas. Daftarnya ada di artikel 6 tempat tersembunyi sarang nyamuk DBD di dalam rumah.


Siapkan Rumah Sebelum Puncak Hujan Desember

Persiapan paling mudah dilakukan sekarang, saat rumah masih kering dan gampang diperiksa:

  • Periksa kayu dan kusen: Ketuk kusen pintu, jendela, dan bagian lemari yang menempel ke dinding. Bunyi kopong atau jalur tanah tipis di dinding adalah tanda awal rayap.
  • Kurangi lampu luar saat laron muncul: Laron tertarik cahaya. Matikan lampu teras yang tidak perlu dan tutup jendela saat laron beterbangan.
  • Tutup jalur masuk tikus: Pasang penutup pada lubang saluran air, celah pipa, dan rongga atap. Simpan makanan dan pakan hewan dalam wadah tertutup.
  • Bersihkan talang dan saluran air: Talang yang tersumbat daun bisa menampung air dan menjadi tempat nyamuk bertelur.
  • Jalankan 3M Plus: Kuras dan sikat tempat penampungan air, tutup rapat wadah air, dan singkirkan barang bekas yang bisa menampung air hujan.
  • Siapkan perlengkapan saat banjir: Sepatu bot dan sarung tangan karet untuk membersihkan rumah setelah banjir, serta plester tahan air untuk menutup luka.

Kapan Harus Menghubungi Jasa Pest Control Profesional?

Pencegahan mandiri cukup untuk mengurangi risiko. Namun ada kondisi yang sebaiknya langsung diperiksa teknisi:

  • Laron keluar dari dalam rumah, misalnya dari celah lantai, kusen, atau dinding.
  • Ada jalur tanah di dinding, atau kayu terasa rapuh saat ditekan.
  • Suara tikus di plafon terdengar hampir setiap malam, atau muncul bau menyengat dari atap.
  • Nyamuk tetap banyak walaupun genangan di sekitar rumah sudah dibersihkan.

Tim Semar Pest siap membantu inspeksi serta penanganan rayap, pengendalian tikus, dan pengendalian nyamuk di Jabodetabek, Bandung, Kuningan, dan Cirebon. Penanganan dilakukan teknisi bersertifikat ASPPHAMI dan program Bayer, dengan bahan yang terdaftar dan legal.


Semar Pest: Solusi Hama, Tanpa Drama!

Sumber