💡 Poin Penting Pada Artikel Ini:

  • Wolbachia Itu Bakteri Alami: Bakteri ini sudah ada di lebih dari separuh jenis serangga. Begitu masuk ke tubuh Aedes aegypti, virus dengue jadi sulit berkembang.
  • Jakarta Barat dan Bandung Sudah Mulai: Keduanya termasuk lima kota uji coba Kemenkes. Hasil evaluasi lengkapnya baru keluar 2027.
  • Rumah Tetap Harus Dijaga: Nyamuk ber-Wolbachia masih bisa menggigit, jadi 3M Plus jangan ditinggalkan.

Nyamuk dilepas ke permukiman, dengan sengaja. Dengar kalimat itu pertama kali, reaksi kebanyakan orang mungkin sama: lho, bukannya nyamuk yang bikin DBD?

Pertanyaannya masuk akal. Tapi nyamuk yang dilepas Kementerian Kesehatan di Jakarta Barat dan Bandung bukan nyamuk sembarangan. Di dalam tubuhnya ada bakteri bernama Wolbachia, dan bakteri inilah yang membuat nyamuk tersebut susah menularkan virus dengue.


Sejak program ini berjalan, kabar simpang siur ikut beredar. Ada yang bilang nyamuknya hasil rekayasa genetik, ada juga yang khawatir bakterinya pindah ke manusia. Kita bahas satu per satu, ya.

Wolbachia Itu Apa, Sih?

Wolbachia adalah bakteri. Rumahnya di dalam sel tubuh serangga, dan di luar itu ia tidak bisa bertahan, apalagi berkembang biak sendiri.


Bakteri ini sebenarnya bukan barang baru. Prof. Adi Utarini, peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memimpin riset Wolbachia di Indonesia, menyebut lebih dari 50% serangga di alam sudah membawanya secara alami. Lalat dan kupu-kupu termasuk di antaranya.


Aedes aegypti justru pengecualian. Nyamuk penular DBD ini tidak punya Wolbachia secara alami, jadi peneliti yang memasukkannya. Prosesnya bukan rekayasa genetik. Kemenkes menegaskan materi genetik nyamuk dan bakterinya sama persis dengan yang ada di alam.

Cara Kerjanya: Nyamuk "Dikawinkan" dengan Nyamuk Lokal

Begitu ada Wolbachia di tubuhnya, virus dengue sulit berkembang di dalam nyamuk. Nyamuk itu tetap hidup normal, hanya saja kemampuannya menularkan DBD jauh berkurang.


Lalu bagaimana caranya supaya nyamuk satu kampung semuanya membawa Wolbachia? Kuncinya ada di perkawinan. Nyamuk jantan dan betina ber-Wolbachia dilepas, lalu kawin dengan nyamuk setempat. Hasilnya kira-kira begini:

  • Jantan ber-Wolbachia dengan betina biasa: telurnya tidak menetas.
  • Jantan biasa dengan betina ber-Wolbachia: anaknya membawa Wolbachia.
  • Dua-duanya ber-Wolbachia: anaknya juga membawa Wolbachia.

Kelihatan polanya? Bakteri ini menurun lewat induk betina, sementara pasangan yang "tidak cocok" tidak menghasilkan keturunan. Dari generasi ke generasi, nyamuk ber-Wolbachia makin mendominasi sampai hampir semua Aedes aegypti di wilayah itu membawanya. Setelah sampai di titik itu, perlindungannya bertahan sendiri tanpa perlu terus melepas nyamuk baru.


Singapura memilih jalan lain. Di sana yang dilepas hanya nyamuk jantan, supaya telur nyamuk lokal tidak menetas dan populasinya turun. Kelemahannya, pelepasan harus dilakukan terus-menerus dan efeknya hanya sementara.


Hasilnya di Yogyakarta, dan Soal Keamanan

Teknologi ini tidak dipakai begitu saja. Penelitiannya dimulai di Yogyakarta sejak 2011, dikerjakan World Mosquito Program bersama UGM.


Angkanya cukup bikin optimis. Di wilayah yang menerima nyamuk ber-Wolbachia, kasus DBD turun sampai 77%. Jumlah pasien dengue yang harus dirawat inap di rumah sakit ikut turun 86%.


Bagaimana dengan keamanannya? Sebelum program diperluas, 20 ilmuwan independen di Indonesia melakukan analisis risiko. Kesimpulan mereka, risiko dampak buruk bagi manusia dan lingkungan bisa diabaikan. Teknologi serupa juga sudah dipakai di 13 negara lain, di antaranya Australia, Brasil, dan Vietnam.

Sudah Sampai Mana di Jakarta dan Bandung?

Payung hukumnya adalah Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1341 Tahun 2022. Aturan ini menunjuk lima kota untuk uji coba: Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Kupang, dan Bontang.


Bandung bergerak lebih dulu. Nyamuk ber-Wolbachia mulai disebar di Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Ujungberung, pada akhir 2023. Tahun berikutnya, Kemenkes menambah empat kelurahan lain di kecamatan yang sama.


Jakarta Barat menyusul. Peluncurannya dilakukan di Kelurahan Kembangan Utara pada 4 Oktober 2024, dengan target menjangkau seluruh kecamatan di Jakarta Barat sampai lebih dari 60% nyamuk di sana membawa Wolbachia.


Apakah sudah berhasil? Belum bisa dipastikan. Pada Juni 2026, Kemenkes menyebut evaluasi menyeluruh di lima kota baru bisa dilakukan pada 2027.


Jadi, Masih Perlu 3M Plus?

Masih. Dan bagian ini yang paling sering disalahpahami.


Wolbachia mengurangi penularan, bukan menghapus nyamuk. Nyamuknya tetap ada, tetap bertelur di genangan, dan tetap menggigit. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung pun sudah mengingatkan bahwa program ini tidak menggantikan upaya pencegahan DBD yang selama ini berjalan.


Jadi kebiasaan lama tetap dipertahankan. Kuras dan tutup tempat penampungan air seminggu sekali, buang barang bekas yang bisa menampung air hujan, dan periksa sudut rumah yang sering terlupa seperti nampan dispenser atau tatakan kulkas. Daftarnya bisa Anda lihat di artikel 6 tempat tersembunyi sarang nyamuk DBD di dalam rumah. Kalau sering beraktivitas di luar pada pagi atau sore hari, pakai losion antinyamuk.


Satu lagi: kalau dapat kabar soal Wolbachia dari grup WhatsApp, cek dulu ke sumber resmi. Kemenkes sudah beberapa kali meminta masyarakat tidak gampang percaya hoaks soal program ini.


Kapan Harus Menghubungi Jasa Pest Control Profesional?

Buat sebagian besar rumah, 3M Plus yang rutin sudah cukup. Tapi ada situasi yang memang sulit diatasi sendiri. Misalnya nyamuk tetap banyak padahal rumah sudah bersih, rumah berbatasan dengan lahan kosong atau selokan terbuka, atau Anda mengelola kantor, sekolah, gudang, maupun restoran yang butuh pengendalian rutin.


Untuk kondisi seperti itu, tim Semar Pest bisa membantu pengendalian nyamuk di Jabodetabek, Bandung, Kuningan, dan Cirebon. Teknisi kami bersertifikat ASPPHAMI dan program Bayer. Kalau lokasi Anda masuk wilayah program Wolbachia, metode penanganannya akan kami sesuaikan.


Semar Pest: Solusi Hama, Tanpa Drama!

Sumber